flash

Senin, 06 Oktober 2014

cerpen

Ayahku Pahlawanku

karya Ajeng


Suatu hari, ada seorang anak perempuan cantik bernama Maharani Ivanka, gadis itu biasa dipanggil Vanka.Vanka seorang gadis cantik , pandai , dan baik hati. Ia adalah anak tunggal yang tinggal di sebuah komplek sederhana di jakarta utara.Ia tinggal bersama kedua orang tuanya.Ayahnya hanyalah seorang tukang tambal ban yang setiap harinya mendapat untung tak seberapa.Ayahnya mempunyai kekurangan yaitu mata sebelah kirinya tidak dapat melihat .Dirumahnya ibu Vanka membuka warung kopi sederhana.Ayah Vanka adalah pekerja keras , itu nampak jelas terlihat pada garis – garis di wajah ayahnya.Dari taman kanak – kanak, Vanka selalu di antar ke sekolah oleh ayahnya dengan sepeda ontel milik ayahnya.Sewaktu kecil Vanka pernah bermain – main dengan sepeda ayahnya , tiba – tiba Vanka jatuh dari sepeda ayahnya. Vanka hanya bisa menangis dan ayahnya pun segera datang untuk mengusap air matanya dan menenangkannya. “Ayah,sakit yah’’ kata Vanka sambil menangis. “iya sabar ,Nak besok juga sembuh” jawab ayahnya dengan khawatir.

Waktu semakin cepat berlalu, sekarang Vanka duduk dikelas III SD, disalah satu sekolah dasar nasional di jakarta utara.Suatu saat , ketika Vanka datang dengan diantar oleh ayahnya dengan ontel milik ayahnya , Vanka bertemu teman – temannya.Bukan sapaan hangat yang keluar dari lidah mereka tetapi sebuah hinaan dan makian yang terlontar dari lidah mereka.” Ha…. Sepeda ontel kuno….kuno…kuno..” kata teman – teman vanka sambil tertawa mengejek.Vanka hanya bisa tertunduk malu dan pergi meninggalkan teman – temannya dengan menangis. Ketika sampai di rumah Vanka langsung masuk ke kamarnya dengan diam dan tanpa berbicara satu kata pun kepada kedua orang tuanya. Keesokan harinya Vanka, masih diantar oleh ayahnya dengan ontelnya. Saat sampai disekolah Vanka pun bertemu dengan teman – temannya. Dan teman – temannya berkata “Ih ini nih anak si buta baru datang dengan sepeda super ontelnya.hahahahaha” kata teman – temannya sambil tertawa mengejek.Dan kali ini Vanka benar – benar malu , kesal dan marah besar. Dia merasa kecewa kepada Tuhan seraya berkata “ Ya Allah, mengapa Kau memberikan ayahku dengan kondisi seperti itu? Kenapa kau memberikan aku kemiskinan seperti ini? Jika Kau sayang kepada ku maka berikanlah aku ini nikmat Mu yang banyak “ pinta Vanka sambil mengeluh  dan melihat kelangit dengan harapan doanya di kabul.

Sore harinya saat dirumah, Vanka sedang asik menonton televisi , ayahnya saat itu sedang duduk di sampingnya sambil membaca koran lokal. Tiba – tiba ayahnya menangis saat membaca koran di halaman tentang masyarakat. Ayahnya Vanka menangis melihat sebuah berita seorang polisi terbunuh oleh temannya sendiri karena masalah hutang yang belum terbayarkan. Berita itu mengingatkan masa lalu ayahnya yang sedang bekerja di kepolisian , saat itu teman ayahnya Vanka dibunuh oleh anggota polisi lainnya karena merasa iri dengan telepon genggam baru milik teman ayahnya Vanka. Namun , saat ingin menolong temannya, ayahnya vanka malah dituduh membunuh teman akrabnya itu. Itulah sebab ayahnya vanka menangis. Di saat itulah Vanka melihat ayahnya menangis di hadapannya untuk pertama kalinya.

“ Nak, kamu jangan malu dengan apa yang kamu punya ya, jangan sampai kamu mengorbankan segalanya hanya untuk harta yang tidak pernah kekal. Malu di hadapan Allah SWT , Nak” kata ayahnya sambil menitikkan air mata. “iya yah , iya” jawab Vanka yang asik menonton televisi seolah – olah tidak menghiraukan perkataan ayahnya.

Keesokan harinya Vanka teringat ejekan temannya dan akhirnya dia bangun pagi sekali agar dia berangkat pagi kesekolah tanpa diantar oleh ontel ayahnya dan teman – temannya barunya tidak mengetahui kondisi ayahnya . Vanka berangkat ke sekolah dengan angkutan umum . itu terus dilakukannya sampai Vanka duduk di SMA .Setiap kali ayahnya menawarinya untuk diantar pasti Vanka selalu menolaknya dengan satu juta alasan .”Ayo Vanka, ayah antar kamu kesekolah , kamu kan sudah SMA nanti kalau kamu terlalu lelah takutnya mengganggu pelajaran lagi pula sudah lama sekali ayah tidak mengantar kamu, Nak.” Kata ayah Vanka sambil tersenyum. “tidak apa yah, sehat kan nanti anak ayah kalau jalan kaki dari sini ke depan gang , lagi pula jarak dari rumah kedepan gang tempat angkotnya dekat kok,Yah” Jawab Vanka sambil berharap ayahnya meninggalkannya. Ayahnya Vanka tertunduk dan mengerti maksud anak kesayangannya itu. Dan akhirnya Vanka naik angkutan umum kesekolahnya.Sebenarnya Vanka ingin sekali di belikan motor baru terlebih sekarang dia sudah duduk di SMA. Tapi dia pendam permintaan itu karena Vanka tahu ketika Vanka minta motor baru pasti jawaban ayah atau ibunya untuk sekolah Vanka jadi tidak mungkin Ayah Vanka membelikan motor baru.

Vanka juga termasuk anak yang pandai, dia punya tekad untuk mengubah nasib keluarganya. Terbukti dengan meraih medali emas olimpiade nasional sosiologi se – Indonesia. Yang mendapat jaminan biaya sekolah perguruan tinggi negeri favorite di Indonesia. Kabar gembira itu sampai kepada telinga ayahnya. Ayahnya yang sedang membenarkan rantai sepeda ontelnya itu tiba – tiba terkejut dan sujud syukur karena kebahagiaannya yang tak tertahankan lagi.”terimakasih ya Allah, sungguh besar nikmat dan karunia Mu untuk keluarga hambaMu ini “ kata ayah Vanka sambil menagis terharu. Disaat itulah Vanka melihat ayahnya menangis di hadapannya untuk kedua kalinya.

Kegembiraan masih meliputi keluarga Vanka, disuatu sore sehabis sepulang sekolah ayah dan ibunya yang sedang duduk bersantai menikmati secangkir teh hangat mengajak bicara Vanka tentang mata kuliah yang ingin diambilnya. “ Ayah , Vanka mau mengambil mata kuliah psikologi di Universitas Indonesia” kata Vanka dengan senang.”kamu yakin mau di Universitas Indonesia saja , di Universitas Gajah Mada bukannya jauh lebih baik,Ka?” sambung ayah Vanka.”iya sih yah, tapi di UI itu banyak alumni dari sekolah Vanka dan teman – teman Vanka banyak yang minat ke UI , jadi ayah lebih mudah menghubungi teman Vanka kalau HP Vanka lagi mati” sambung Vanka.”yasudah terserah kamu saja ibu sama ayah mendukung kamu , yang penting tingkatkan belajar kamu disekolah ya,Ka” jawab ayah Vanka. “sip deh ayah” sambungnya dengan senang.

Seiring berjalannya waktu , Vanka menginjak usia 18 tahun dan sekarang dia sudah kuliah di UI dengan mata kuliah psikologi. Tentu ini adalah mimpinya yang sudah menjadi kenyataan .Kuliah di PTN favorite di Indonesia dengan beasiswa itu merupakan anugerah terbesar Vanka dan keluarganya.kuliah di UI membuat  Vanka harus terpisah jauh dari kedua orang tuannya, Vanka harus tinggal bersama temannya di depok .Tapi, meskipun Vanka terpisah jauh dari keluarganya itu tidak membuat ayah Vanka merasa  bosan dan lelah menelpon anak satu – satunya itu setiap hari.

Ayah Vanka selalu menanyakan kabar Vanka setiap hari.Sampai suatu hari, bukan ayah Vanka yang menelepon tapi ibu Vanka yang memberitahu bahwa ayahnya jatuh sakit .Vanka langsung pergi kerumahnya di jakarta utara.”Assalamualaikum , Yah” kata Vanka sambil membuka pintu kamar ayahnya . “Waalaikumussalam Warahmatullah, sini Nak, ayah rindu banget sama kamu” jawab ayah Vanka sambil tersenyum. “Vanka juga rindu ayah” sambung Vanka sambil mencium tangan ayahnya. Kini tangan ayahnya sudah tidak sekokoh dahulu, tangannya sudah tidak selembut dahulu yang menyentuh wajahnya.Tangannya sudah sudah rapuh dan banyak garis – garis  di tangannya tanda kerja keras untuk keluarganya.Saat Vanka memandang ayahnya yang sedang sakit, Ayah Vanka tidak dapat menahan air mata karena rasa sakit yang dideritanya. Tapi ayah Vanka selalu tersenyum melihat putrinya yang datang sebagai penutup rasa sakit yang dialami Ayah Vanka.Di saat itulah Vanka melihat ayahnya menangis di hadapannya untuk ketiga kalinya.Berita tentang jatuh sakitnya Ayahnya Vanka sampai di telinga teman – temannya, dan itu membuat teman – teman Vanka berlomba – lomba berkunjung kerumah Vanka.

Tiba – tiba rasa malu Vanka muncul kembali, Vanka merasa malu dengan kondisi ayahnya yang matanya tidak dapat melihat dengan sempurna seperti ayah teman – temannya .Setelah teman – temannya pulang Vanka , langsung pamit untuk pergi ke depok lagi. Ibunya sempat melarangnya karena ayah Vanka sangat membutuhkannya .”Nak, kamu kok sudah mau ke Depok saja, kamu tidak bisa izin 1 minggu karena ayah kamu kondisinya seperti itu, dia sangat membutuhkanmu”.tanya ibu Vanka sambil memohon kepadanya. “tidak bisa, Bu. Vanka harus kuliah lagi “ sambungnya. Vanka langsung pamit kepada kedua orang tuanya dan memandang ayahnya yang hanya bisa tersenyum melihat Vanka, putri satu – satunya itu  sudah besar. Ayahnya mengerti betul mengapa tiba – tiba Vanka pergi ke depok padahal Ayah Vanka sangat membutuhkannya.Sebenarnya , ayah dan ibunya tahu bahwa Vanka malu dengan kondisi ayahnya ,Ibu Vanka selalu ingin memberitahukan anaknya kejadian yang sebenarnya tapi selalu dilarang oleh ayah Vanka dengan alasan akan membebani pikiran Vanka di kuliahnya.

Meskipun sakit , ayah Vanka selalu menelponnya meskipun tangan dan lidahnya sudah kaku saat berbicara kepadanya.Ayah Vanka selalu menanyakan kabarnya dan kapan dia bisa kerumah untuk bersamanya.

Sampai suatu hari tanda – tanda itu hadir, Ayahnya hanya ingin Vanka disampingnya untuk memegang tanganya dan menemaninya untuk melewati kematiannya.Ibunya sudah menelponnya tapi Vanka selalu berkata bahwa dia sibuk bahkan disaat ayahnya dengan kondisi seperti itu. Keesokan harinya kejadian itu benar terjadi, ayah Vanka untuk terakhir kalinya menyebut Vanka dan disambung dengan kata “Laillahaillalah” dan ayahnya mengehembuskan napas terakhirnya. Butir – butir air mata ibu Vanka tidak dapat tertahan lagi, melihat suaminya pergi ke pada Yang Maha Besar dengan menyebut putrinya untuk terakhir kalinya tanpa merasakan kehangatan tangan putrinya.

Saudara dari ayah atau ibunya Vanka sudah ramai berdatangan tapi hanya Vanka yang belum datang.Ibunya terus menelponnya tapi Vanka tidak mau melihat ayahnya yang terbujur kaku, Ibu Vanka tahu pasti Vanka malu dengan  kondisi ayahnya bahkan saat ayahnya harus pergi untuk selama – lamanya.Karena keras kepalanya Vanka yang tidak mau datang, itu membuat ibu Vanka harus pergi ke depok.”Assalamualaikum, Vanka?”salam ibu Vanka .”Waalaikumussalam, Bu.” Jawab Vanka.

“Nak, Ayah kamu telah dipanggil Allah SWT, karena Dia sayang pada ayah mu tapi mengapa kamu tidak mau datang kerumah? Semua menunggu kamu, Nak.Kamu tidak mau melihat untuk terakhir kalinya malaikat yang pertama kali mengajari kamu mengenal Allah SWT dengan adzan sewaktu kamu baru lahir?Malaikat yang menitikkan air mata menahan kesakitan yang dialaminya demi kamu? Yang menahan panasnya terik matahari demi kamu, yang menggayuh sepeda ontelnya demi kamu kesekolah, yang mengusap air mata kamu saat kamu jatuh dari sepeda? Kamu masih tidak mau melihat ayah kamu sampai saat ini, Ka? Tanya ibu sambil meneteskan air matanya yang suci itu. Butir – butir air mata Vanka tidak tertahankan lagi.” Tapi Vanka malu dengan semua orang karena kondisi ayah yang sekarang,Bu” sambungnya dengan kalimat terbata – bata karena tidak sanggup menahan air matanya.

“Vanka kamu malu dengan kondisi malaikat mu? Mungkin ini saatnya kamu tahu cerita yang sebanarnya.ibu ingin menceritakan ini sejak dahulu tapi ayah mu selalu melarang ibu. Nak, kamu tidak ingat saat berusia 3 tahun ketika kamu bermain dengan sepeda ayah berusah untuk menaikinya dengan penuh semangat, semangat itu yang membuat kamu terjatuh .Ketahuilah ,Vanka, itu menyebabkan bagian kiri kepala kamu terbentur yang menyebabkan kamu tidak bisa melihat dengan normal.Ibu ingat kamu hanya bisa menangis dan menjerit kesakitan , dari kejadian itu ayah kamu yang pertama kali menolong mu karena jarak ibu terlalu jauh dari mu, Ayah mu menenangkanmu dan mengusap air mata mu ,serta memeluknya dengan hangat. Ibu sangat menyesal itu terjadi pada mu,Nak. Malamnya, ketika kamu sudah tidur Ayahmu keluar masuk kamarmu dengan sangat cemas , tidak makan dan tidur dia hanya menangis di depan ibu , dan dia bertanya terus menerus apa yang di lakukannya sampai satu keputusan bulat bahwa dia akan mendonorkan korneanya untuk mu,Alhamdulillah Allah SWT mengizinkan kamu memakai kornea ayah kamu sehingga kamu bisa melihat sampai saat ini. Ketahuilah Vanka bahwa mata kiri mu itu adalah kornea ayah “ kata ibu sambil mengeluarkan air matanya karena tidak tahan menangis.

Vanka hanya bisa  terdiam dan menangis sambil memeluk ibunya.”Bu, Vanka mau pulang, Vanka mau bertemu ayah dan minta maaf kepadanya.” Sambungnya dengan nada terbata – bata.Saat Vanka sampai dirumahnya, bukan sambutan senyuman hangat seperti dahulu tapi kain yang menutupi tubuh ayahnya yang terbujur kaku .Saat mencium tangan Ayahnya bukan kehangatan yang Vanka rasakan tapi dingin sedingin es tangan ayahnya.Vanka langsung meminta maaf , bukan kepada ayahnya lagi tapi jasad ayahnya saja, karena Vanka tahu ayahnya sudah tidak mendengarkannya lagi.

Satu minggu kemudian, Vanka bersih – bersih rumahnya .Tak sengaja dia melihat ontel ayahnya yang sudah berdebu di gudang, Air mata Vanka tak tertahan saat dia mengingat senyum ayahnya dan juga pengorbanan ayahnyahanya sebagai tukang tambal ban dan selalu bersabar dengan ontelnya jika bermasalah dengan bagian rantainya. Teringat masa lalu Vanka dengan ayahnya saat jalan – jalan dengan ontel ayahnya .Tidak menunggu lama Vanka langsung merawat ontel ayahnya itu. Vanka mencuci dan merawat ontelnya, bahkan dia tidak malu pergi ke kampusnya dengan mengendarai ontel ayahnya itu. 

5 tahun kemudian Vanka menikah dan mempunyai seorang anak perempuan cantik seperti ibunya. Gadis itu bernama Kinan. Kinan cepat sekali tumbuh besar, sekarang dia berusia 5 tahun. Suatu pagi ketika Vanka main bersama Kinan. Kinan bertanya kepada ibunya. “Bu, ibu dan ayahnya Ibu itu seperti apa? Cerita ke Kinan dong, Bu” pinta Kinan.” Emmm , nenek kamu itu adalah perempuan cantik yang tegar, kuat dan luar biasa.Nenek kamu sering menangis tapi bukan menangis karena lemah tapi karena beliau perempuan yang kuat dan tegar. Kalau ayahnya ibu itu….” Seketika terdiam dan Vanka hanya mampu menangis.”ayahnya ibu itu seperti apa? Kok ibu menangis?” Tanya Kinan dengan penasaran.“Ayahnya ibu itu adalah seorang laki – laki luar biasa, tetes air mata dan keringatnya hanya untuk keluarganya. Beliau memberikan segalanya untuk ibu,Ibu ingin sekali mengajarkan kamu tentang apa saja yang beliau ajarkan kepada ibu.Bahwa kita tidak boleh malu dengan apa yang kita punya, sekecil apapun itu” jawab Vanka yang sambil menangis dan memeluk Kinan.



 Vanka selalu mengantar kinan kesekolah dengan ontel ayahnnya. Tanpa rasa malu dan dengan percaya dirinya Kinan kesekolah, Hal yang dialami Kinan sama seperti ibunya, selalu mendapat sambutan ejekan tapi Kinan adalah gadis yang kuat sehingga dia tidak pernah menghiraukan perkataan temannya itu.Karena Kinan yakin pemberian orang tuanya adalah yang terbaik untuknya dan masa depannya.