Ayahku Pahlawanku
karya Ajeng
Waktu
semakin cepat berlalu, sekarang Vanka duduk dikelas III SD, disalah satu
sekolah dasar nasional di jakarta utara.Suatu saat , ketika Vanka datang dengan
diantar oleh ayahnya dengan ontel milik ayahnya , Vanka bertemu teman –
temannya.Bukan sapaan hangat yang keluar dari lidah mereka tetapi sebuah hinaan
dan makian yang terlontar dari lidah mereka.” Ha…. Sepeda ontel
kuno….kuno…kuno..” kata teman – teman vanka sambil tertawa mengejek.Vanka hanya
bisa tertunduk malu dan pergi meninggalkan teman – temannya dengan menangis.
Ketika sampai di rumah Vanka langsung masuk ke kamarnya dengan diam dan tanpa
berbicara satu kata pun kepada kedua orang tuanya. Keesokan harinya Vanka,
masih diantar oleh ayahnya dengan ontelnya. Saat sampai disekolah Vanka pun
bertemu dengan teman – temannya. Dan teman – temannya berkata “Ih ini nih anak
si buta baru datang dengan sepeda super ontelnya.hahahahaha” kata teman –
temannya sambil tertawa mengejek.Dan kali ini Vanka benar – benar malu , kesal
dan marah besar. Dia merasa kecewa kepada Tuhan seraya berkata “ Ya Allah,
mengapa Kau memberikan ayahku dengan kondisi seperti itu? Kenapa kau memberikan
aku kemiskinan seperti ini? Jika Kau sayang kepada ku maka berikanlah aku ini
nikmat Mu yang banyak “ pinta Vanka sambil mengeluh dan melihat kelangit dengan harapan doanya di
kabul.
Sore
harinya saat dirumah, Vanka sedang asik menonton televisi , ayahnya saat itu
sedang duduk di sampingnya sambil membaca koran lokal. Tiba – tiba ayahnya
menangis saat membaca koran di halaman tentang masyarakat. Ayahnya Vanka
menangis melihat sebuah berita seorang polisi terbunuh oleh temannya sendiri
karena masalah hutang yang belum terbayarkan. Berita itu mengingatkan masa lalu
ayahnya yang sedang bekerja di kepolisian , saat itu teman ayahnya Vanka
dibunuh oleh anggota polisi lainnya karena merasa iri dengan telepon genggam
baru milik teman ayahnya Vanka. Namun , saat ingin menolong temannya, ayahnya
vanka malah dituduh membunuh teman akrabnya itu. Itulah sebab ayahnya vanka
menangis. Di saat itulah Vanka melihat ayahnya menangis di hadapannya untuk
pertama kalinya.
“ Nak,
kamu jangan malu dengan apa yang kamu punya ya, jangan sampai kamu mengorbankan
segalanya hanya untuk harta yang tidak pernah kekal. Malu di hadapan Allah SWT
, Nak” kata ayahnya sambil menitikkan air mata. “iya yah , iya” jawab Vanka yang
asik menonton televisi seolah – olah tidak menghiraukan perkataan ayahnya.
Keesokan
harinya Vanka teringat ejekan temannya dan akhirnya dia bangun pagi sekali agar
dia berangkat pagi kesekolah tanpa diantar oleh ontel ayahnya dan teman –
temannya barunya tidak mengetahui kondisi ayahnya . Vanka berangkat ke sekolah
dengan angkutan umum . itu terus dilakukannya sampai Vanka duduk di SMA .Setiap
kali ayahnya menawarinya untuk diantar pasti Vanka selalu menolaknya dengan
satu juta alasan .”Ayo Vanka, ayah antar kamu kesekolah , kamu kan sudah SMA
nanti kalau kamu terlalu lelah takutnya mengganggu pelajaran lagi pula sudah
lama sekali ayah tidak mengantar kamu, Nak.” Kata ayah Vanka sambil tersenyum.
“tidak apa yah, sehat kan nanti anak ayah kalau jalan kaki dari sini ke depan
gang , lagi pula jarak dari rumah kedepan gang tempat angkotnya dekat kok,Yah” Jawab
Vanka sambil berharap ayahnya meninggalkannya. Ayahnya Vanka tertunduk dan
mengerti maksud anak kesayangannya itu. Dan akhirnya Vanka naik angkutan umum
kesekolahnya.Sebenarnya Vanka ingin sekali di belikan motor baru terlebih
sekarang dia sudah duduk di SMA. Tapi dia pendam permintaan itu karena Vanka
tahu ketika Vanka minta motor baru pasti jawaban ayah atau ibunya untuk sekolah
Vanka jadi tidak mungkin Ayah Vanka membelikan motor baru.
Vanka
juga termasuk anak yang pandai, dia punya tekad untuk mengubah nasib
keluarganya. Terbukti dengan meraih medali emas olimpiade nasional sosiologi se
– Indonesia. Yang mendapat jaminan biaya sekolah perguruan tinggi negeri
favorite di Indonesia. Kabar gembira itu sampai kepada telinga ayahnya. Ayahnya
yang sedang membenarkan rantai sepeda ontelnya itu tiba – tiba terkejut dan
sujud syukur karena kebahagiaannya yang tak tertahankan lagi.”terimakasih ya
Allah, sungguh besar nikmat dan karunia Mu untuk keluarga hambaMu ini “ kata
ayah Vanka sambil menagis terharu. Disaat itulah Vanka melihat ayahnya menangis
di hadapannya untuk kedua kalinya.
Kegembiraan
masih meliputi keluarga Vanka, disuatu sore sehabis sepulang sekolah ayah dan
ibunya yang sedang duduk bersantai menikmati secangkir teh hangat mengajak
bicara Vanka tentang mata kuliah yang ingin diambilnya. “ Ayah , Vanka mau
mengambil mata kuliah psikologi di Universitas Indonesia” kata Vanka dengan
senang.”kamu yakin mau di Universitas Indonesia saja , di Universitas Gajah
Mada bukannya jauh lebih baik,Ka?” sambung ayah Vanka.”iya sih yah, tapi di UI
itu banyak alumni dari sekolah Vanka dan teman – teman Vanka banyak yang minat
ke UI , jadi ayah lebih mudah menghubungi teman Vanka kalau HP Vanka lagi mati”
sambung Vanka.”yasudah terserah kamu saja ibu sama ayah mendukung kamu , yang
penting tingkatkan belajar kamu disekolah ya,Ka” jawab ayah Vanka. “sip deh
ayah” sambungnya dengan senang.
Ayah
Vanka selalu menanyakan kabar Vanka setiap hari.Sampai suatu hari, bukan ayah
Vanka yang menelepon tapi ibu Vanka yang memberitahu bahwa ayahnya jatuh sakit .Vanka
langsung pergi kerumahnya di jakarta utara.”Assalamualaikum , Yah” kata Vanka
sambil membuka pintu kamar ayahnya . “Waalaikumussalam Warahmatullah, sini Nak,
ayah rindu banget
sama kamu” jawab ayah Vanka sambil tersenyum. “Vanka juga rindu ayah” sambung
Vanka sambil mencium tangan ayahnya. Kini tangan ayahnya sudah tidak sekokoh
dahulu, tangannya sudah tidak selembut dahulu yang menyentuh wajahnya.Tangannya
sudah sudah rapuh dan banyak garis – garis
di tangannya tanda kerja keras untuk keluarganya.Saat Vanka memandang
ayahnya yang sedang sakit, Ayah Vanka tidak dapat menahan air mata karena rasa
sakit yang dideritanya. Tapi ayah Vanka selalu tersenyum melihat putrinya yang
datang sebagai penutup rasa sakit yang dialami Ayah Vanka.Di saat itulah Vanka
melihat ayahnya menangis di hadapannya untuk ketiga kalinya.Berita tentang jatuh
sakitnya Ayahnya Vanka sampai di telinga teman – temannya, dan itu membuat
teman – teman Vanka berlomba – lomba berkunjung kerumah Vanka.
Tiba –
tiba rasa malu Vanka muncul kembali, Vanka merasa malu dengan kondisi ayahnya
yang matanya tidak dapat melihat dengan sempurna seperti ayah teman – temannya
.Setelah teman – temannya pulang Vanka , langsung pamit untuk pergi ke depok
lagi. Ibunya sempat melarangnya karena ayah Vanka sangat membutuhkannya .”Nak,
kamu kok sudah mau ke Depok saja, kamu tidak bisa izin 1 minggu karena ayah
kamu kondisinya seperti itu, dia sangat membutuhkanmu”.tanya ibu Vanka sambil
memohon kepadanya. “tidak bisa, Bu. Vanka harus kuliah lagi “ sambungnya. Vanka
langsung pamit kepada kedua orang tuanya dan memandang ayahnya yang hanya bisa
tersenyum melihat Vanka, putri satu – satunya itu sudah besar. Ayahnya mengerti betul mengapa
tiba – tiba Vanka pergi ke depok padahal Ayah Vanka sangat
membutuhkannya.Sebenarnya , ayah dan ibunya tahu bahwa Vanka malu dengan
kondisi ayahnya ,Ibu Vanka selalu ingin memberitahukan anaknya kejadian yang
sebenarnya tapi selalu dilarang oleh ayah Vanka dengan alasan akan membebani
pikiran Vanka di kuliahnya.
Meskipun
sakit , ayah Vanka selalu menelponnya meskipun tangan dan lidahnya sudah kaku
saat berbicara kepadanya.Ayah Vanka selalu menanyakan kabarnya dan kapan dia bisa
kerumah untuk bersamanya.
“Nak,
Ayah kamu telah dipanggil Allah SWT, karena Dia sayang pada ayah mu tapi
mengapa kamu tidak mau datang kerumah? Semua menunggu kamu, Nak.Kamu tidak mau
melihat untuk terakhir kalinya malaikat yang pertama kali mengajari kamu
mengenal Allah SWT dengan adzan sewaktu kamu baru lahir?Malaikat yang
menitikkan air mata menahan kesakitan yang dialaminya demi kamu? Yang menahan
panasnya terik matahari demi kamu, yang menggayuh sepeda ontelnya demi kamu
kesekolah, yang mengusap air mata kamu saat kamu jatuh dari sepeda? Kamu masih
tidak mau melihat ayah kamu sampai saat ini, Ka? Tanya ibu sambil meneteskan
air matanya yang suci itu. Butir – butir air mata Vanka tidak tertahankan lagi.”
Tapi Vanka malu dengan semua orang karena kondisi ayah yang sekarang,Bu”
sambungnya dengan kalimat terbata – bata karena tidak sanggup menahan air
matanya.
Vanka
hanya bisa terdiam dan menangis sambil
memeluk ibunya.”Bu, Vanka mau pulang, Vanka mau bertemu ayah dan minta maaf kepadanya.”
Sambungnya dengan nada terbata – bata.Saat Vanka sampai dirumahnya, bukan
sambutan senyuman hangat seperti dahulu tapi kain yang menutupi tubuh ayahnya
yang terbujur kaku .Saat mencium tangan Ayahnya bukan kehangatan yang Vanka
rasakan tapi dingin sedingin es tangan ayahnya.Vanka langsung meminta maaf ,
bukan kepada ayahnya lagi tapi jasad ayahnya saja, karena Vanka tahu ayahnya
sudah tidak mendengarkannya lagi.
5 tahun kemudian Vanka menikah dan mempunyai seorang anak
perempuan cantik seperti ibunya. Gadis itu bernama Kinan. Kinan cepat sekali
tumbuh besar, sekarang dia berusia 5 tahun. Suatu pagi ketika Vanka main
bersama Kinan. Kinan bertanya kepada ibunya. “Bu, ibu dan ayahnya Ibu itu
seperti apa? Cerita ke Kinan dong, Bu” pinta Kinan.” Emmm , nenek kamu itu
adalah perempuan cantik yang tegar, kuat dan luar biasa.Nenek kamu sering
menangis tapi bukan menangis karena lemah tapi karena beliau perempuan yang
kuat dan tegar. Kalau ayahnya ibu itu….” Seketika terdiam dan Vanka hanya mampu
menangis.”ayahnya ibu itu seperti apa? Kok ibu menangis?” Tanya Kinan dengan
penasaran.“Ayahnya ibu itu adalah seorang laki – laki luar biasa, tetes air
mata dan keringatnya hanya untuk keluarganya. Beliau memberikan segalanya untuk
ibu,Ibu ingin sekali mengajarkan kamu tentang apa saja yang beliau ajarkan
kepada ibu.Bahwa kita tidak boleh malu dengan apa yang kita punya, sekecil
apapun itu” jawab Vanka yang sambil menangis dan memeluk Kinan.
Vanka selalu mengantar kinan kesekolah dengan
ontel ayahnnya. Tanpa rasa malu dan dengan percaya dirinya Kinan kesekolah, Hal
yang dialami Kinan sama seperti ibunya, selalu mendapat sambutan ejekan tapi
Kinan adalah gadis yang kuat sehingga dia tidak pernah menghiraukan perkataan
temannya itu.Karena Kinan yakin pemberian orang tuanya adalah yang terbaik
untuknya dan masa depannya.
